Fiksi

  • Santan dan Sepatu

    “Bapakmu itu bodoh. Kawan-kawannya sudah diangkat semua jadi PNS, cuma bapakmu saja yang tertinggal. Tinggal nyoblos Partai Pohon saja ndak mau. Malah keukeuh nyoblos Partai Galaxy,” ibuku nyerocos begitu saja sambil marut kelapa untuk janganan lodeh nangka muda. Sajian yang harus siap sebelum bapak pulang kerja jadi satpam di pabrik tekstil. “Ya sudah, ketinggalan sendirian. Lihat itu kawannya Pak Ubet, sudah mapan hidupnya. Sekarang sudah jadi…

  • Pusaka Telah Pergi

    Pusaka mati tak pernah kembaliMelaju pergi silih bergantiYang tersisa hanyalah penyesalan diriMengapa dulu tak dipingit sendiri Oh fajar yang sudah berlaluOh sinar yang semakin saruKini hanya tinggal hati yang bertaluTak tahu lagi kemana mengadu Dulu kecil tak pernah kusimak adumuDulu rentan tak pernah kutolong susahmuKini beranjak matang kau tak kenal akuAkupun pura-pura paham dirimu Orang…

  • |

    Singaraja Suatu Pagi

    Menjelang subuh aku terbangun sendiriKuraba jeding bersumber dari sungaiTak ada pancuran wudhu di siniHanya gayung dengan air segar dingin sekali “Mas, ini sajadahnya buat besok. Kucari-cari ternyata masih ada di dasar lemari,” Kemarin sebelum tidur, tuan rumah menitipkan pesan begini:“Sisa milik ibu yg sudah lama tak dipakai.” Kugelar sajadah itu selepas wudhu sendiriSujud dan bertafakur melihat ke diriDi tengah desa yg…

  • |

    Cerpen: Nakhoda Sekoci

    Namanya Pak Imam. Anak-anaknya sudah besar. Dia sendiri sudah tidak bekerja sejak lima tahun lalu karena pernah jatuh akibat stroke. Sebenarnya sekarang sudah bisa beraktivitas kembali, hanya saja memang tidak setangguh dulu. Keluarganya berpikiran lebih baik Pak Imam istirahat di rumah saja. Ini bentuk kasih sayang dan penghormatan atas posisinya sebagai pemimpin rumah tangga. Sebagai…